Karakter (1)

by azilmi

Sejak lama saya tertarik mengamati pola-pola pengembangan karakter dan dinamika yang terjadi disekitarnya, secara sederhana yang selalu membuat saya tertarik dimana singgungan jenjang dunia pendidikan pada khusus nya tingkat Universitas (jenjang D3 – Ahli Madya dan S1 – Sarjana) yang menjadi jembatan bagi dunia kerja dikemudian hari. Secara umum pendidikan karakter sedianya sudah mulai terbentuk sejak pendidikan anak usia dini hingga ke tingkat pendidikan akhir, namun tugas penting di tingkat Universitas lah yang seharusnya membentuk dan mengembangkan para siswa tersebut agar siap dan kokoh menjadi siswa terdidik yang siap terjun untuk membangun bangsa, terlepas dari peranan lingkungan terkecil (keluarga) yang turut serta sebagai pengawas pembentukan karakter.

Dua hal yang menurut saya menjadi polemik terbesar dimana; 1. Universitas sebagai sarana pengembang karakter, 2. Universitas sebagai pembentuk karakter

Demi mewujudkan keberhasilan pembangunan Indonesia yang lebih baik dimasa yang akan datang, terlepas dengan dicanangkannya program pemerintah A, B, C dan seterusnya untuk memantapkan pembangunan nasional, kesadaran ini tidak hanya bisa disadari oleh pemerintah, birokrat dunia pendidikan hingga kepada mahasiswa yang bersangkutan. Dalam lingkungan kecil yang dimana sayapun terlibat dalam keseharian nya berdasarkan observasi dan keterlibatan didalam nya selama 5 tahun terakhir, saya kira banyak bagian/elemen yang masih belum menyadari betapa penting nya fungsi pendidikan, pembentukan dan pengembangan karakter mahasiswa.

Hal yang pertama, universitas sebagai lembaga/organisasi/wadah pendidik memiliki peranan sebagai sarana pengembangan karakter kepribadian mahasiswa tidak hanya cukup mencanangkan dan menetapkan program mutu berdasarkan kurikulum dan kompetensi akademik, tanpa pengawasan dalam keberlangsungan program tersebut dilapangan, tapi seharusnya menerapkan suatu standar mutu berkelanjutan yang dimana program, pelaksanaan dan pengembangannya diawasi secara penuh berdasarkan standar dan tujuan yang telah ditetapkan.

Hal tersebut tentunya akan berjalan dengan baik, yang dimana dengan catatan besar, mahasiswa tersebut memang sudah memiliki bentuk karakter yang unggul yang sudah dibawanya dari jenjang pendidikan sebelumnya. Dalam konteks yang luas, terlepas hal-hal yang terkait dibelakang meja dan diatas program kesejahteraan kepegawaian dan keluarganya, setiap mahasiswa yang telah lulus masuk melewati tes seleksi masuk mandiri, seleksi nasional masuk ptn, dan program beasiswa, mereka dinyatakan unggul berdasarkan hasil pencapaian nya, yaitu pencapaian siswa tersebut masuk ptn/pts berdasarkan standar minimum nilai akademik yang ditetapkan dalam ujian masuk tersebut, yang harus ditempuh melalui suatu sistem ujian akademik secara nasional, maka siswa tersebut dinyatakan unggul secara akademik apabila mampu lulus dibandingkan siswa lainnya yang gagal masuk pada ujian tersebut. Unggul secara akademik, apakah unggul pula secara karakter?.

Seperti yang telah diketahui bersama, dimana keberagaman nilai standar masuk yang ditunjukan dengan cluster, keberagaman kriteria minimum, dan keberagaman output jenjang sekolah menengah akhir akan menjadikan pula keberagaman output akhir jenjang pendidikan universitas, ada nilai tingkat signifikansi yang dihasilkan antara linier nya output jenjang sma, kriteria dan nilai standar minimum masuk ptn terhadap output ptn, ada pula nilai pengaruhnya, meskipun hanya dapat diukur melalui kajian statistik.

Perbedaan nilai standar minimum masuk universitas A, B, C dan seterusnya, perbedaan antara nilai standar minimum institute A, B, C, dan seterusnya, perbedaan antara Universitas, Institut, dan Politeknik pun menjadikan keberagaman output akhir mahasiswa dalam menghadapi dunia kerja, keberagaman tersebut pula yang menjadikan pembangunan yang beragam dan tidak merata, keberagaman tersebut pula yang menjadikan Indonesia sebagai Negara yang luas ini yang terdiri dari sejumlah pulau besar dan sejumlah besar pulau kecil, berjuta penduduk Indonesia dalam menghadapi masa depan yang tidak menentu semakin beragam. Pernyataan tersebut dalam urutan hirarki tertinggi dunia pendidikan, dunia Universitas.

Merunut kebawah, keberagaman tersebut terjadi pula pada jenjang sekolah menengah akhir, terus turun kepada jenjang sekolah menengah pertama, dan turun lagi kepada jenjang sekolah dasar, ini akan terus berputar seperti mata rantai yang membentuk cycle yang khas, yaitu kualitas dan karakter pendidikan di Indonesia.

Sebuah keputusan paling solutif yang dicanangkan oleh pemerintah dalam meminimalisir hal tersebut adalah dengan menetapkan Ujian Nasional dan SNMPTN, namun lihat keberlangsungannya dalam 6 tahun terakhir berjalan, ketetapan dan peraturan yang terus berubah sejalan dengan keberatan-keberatan siswa dan orang tua nya, keberatan beban yang ditanggung oleh setiap guru nya, ini menjadikan pemerintah tidak menentu arah standar mutu ny. Tujuan nya hanya satu saya kira, menghasilkan lulusan dengan satu standar mutu secara nasional yaitu dengan satu standar nilai akademik nya, secara karakter?.

Kita tidak dapat menutup mata dan menutup telinga, memang saya tidak melakukan survey kepada seluruh peserta didik yang mengikuti ujian nasional yang jumlah nya ada jutaan setiap tahunnya, saya pun tidak dapat melakukan survey tersebut pada ribuan sekolah pada satu tahun ujian, tapi sebagai mahasiswa yang pernah mengikuti ujian nasional sebagai siswa pada tahun 2009, saya kira persentase siswa yang mengerjakan dan mendapatkan hasil 100% dari hasil keringat, disiplin dan kerja keras sendiri selama 3 tahun mengenyam dunia pendidikan tidak lebih dari 50%.

Hal tersebut akan terus berputar dari tatanan jenjang pendidikan sma hingga ke jenjang sekolah dasar.

Lantas dimana letak kekurangannya?, para professor dan doctor duduk dijajaran kursi pemerintahan, khususnya pada kementrian pendidikan apakah mereka salah dalam merumuskan dan menetapakan program dan kurikulum nya?, sangat tidak tepat menyalahkan mereka, lantas akan menyalahkan kurang nya tenaga ahli dunia pendidikan?, berapa juta mahasiswa setiap tahun nya yang lulus dari suatu universitas?, masih kurang?,

Ketetapan tersebut hanya berkaca pada satu sisi yaitu akademik, lantas pada sisi karakter?,

Hal ini sangat kompleks, telah terjadi kekurangan yang melekat dan menjadikan hasil yang berdampak secara sistemik, terus berputar dalam cycle tersebut, telah terbentuk sistem kekurangan tersebut dalam mata rantai yang tidak terputus. Bila ini terus terjadi bagaimana dengan pembangunan Indonesia?. Begitupula dengan catatan besar, seluruh lulusan akademisi memang dipersiapkan dengan visi untuk membangun Indonesia dimasa yang akan datang, untuk NKRI dan hanya untuk NKRI.

Akademik dan Karakter bagaikan sebuah belati, yang tajam pada kedua sisi seharusnya, bila satu sisi saja yang diasah, lantas?, pembangunan yang lambat, kesejahteraan menurun, kriminalitas yang meningkat, dan hal lain yang tidak ingin terjadi lain nya, ini sangat kompleks.

Kompleksitas dunia pendidikan ini sangat unik seiring dengan animo legislatif yang pada beberapa hari yang lalu para partai politik berlomba berebut kursi pemerintahan, sejumlah besar orang dari berbagai latar belakang berebut mencari simpati public, menggelontorkan sejumlah besar dana untuk kampanye, padahal satu contoh masalah yang selalu bersinggungan setiap hari nya dan sangat kompleks ada dihadapannya. Mungkin bagi mereka hal tersebut sangat mudah untuk diselesaikan, dan setiap 5 tahun sekali mungkin setiap orang juga berfikir mudah untuk menyelesaikan problematika-problematika tersebut, sekarang 2014, 3 kali periode pemilu pasca reformasi, ada yang berubah menjadi semakin baik dari yang telah baik?.

Maka dari itu, apakah sudah cukup bagi Universitas sebagai sebuah lembaga/organisasi/wadah yang berfungsi sebagai pengembang karakter mahasiswa nya?.

Advertisements