Karakter (2)

by azilmi

Yang kedua, Universitas sebagai lembaga/organisasi/wadah/ yang berperan membentuk karakter mahasiswa. Setiap tahun nya diperkirakan setiap universitas akan menerima sekitar 3000-5000 mahasiswa baru, dengan keberagaman yang berbeda, karakter dan identitas yang berbeda yang mereka bawa dari dunia sma sebelumnya. Perlu digaris bawahi, hanya dalam satu tujuan yaitu menghasilkan output mahasiswa yang memiliki karakter dan kemampuan secara akademik yang sangat berkualitas dalam menghadapi dunia kerja/industri, dan dengan harapan besar kemampuan terbaik tersebut dapat menjadi sumbangsih terbesar besar dalam membangun Indonesia dikemudian hari tentu diperlukan pengawasan yang extra ketat dalam program pembentukan karakter yang tepat.

Dalam hirarki nya, universitas terbagai menjadi 3 kelembagaan birokrat terbesar, yang dimana Universitas sebagai Top Layer, Fakultas sebagai Middle Layer, dan Program Studi sebagai Low Layer nya.

Dalam perancangan program pembentukan karakter yang tepat, pihak yang paling berwenang dalam menetapkan standar program secara birokrat harus dapat merumuskan secara tepat berdasarkan karakter yang akan dibentuk dan diciptakan agar sesuai dikemudian hari, keberagaman antar Fakultas dibawah kelembagaan Universitas memiliki perbedaan karakter yang khas dan kokoh, seperti dalam satu Universitas yang memiliki 6 fakultas misalnya, Teknik, Bahasa dan Seni (mungkin biasanya terpisah), Ekonomi dan Bisnis, Pendidikan, MIPA, Olahraga, dan fakultas lain nya pada umum nya seperti Kedokteran, Hukum, Pertanian, Pertambangan, dsb. Setiap Fakultas tersebut memiliki kebutuhan karakter yang khas dan akan menghasilkan karakter yang khas, analisa tepat yang mendalam akan membuat tujuan pencapaian tersebut berhasil, mendapatkan input dan menghasilkan output yang diharapkan berdasarkan program pembentukan karakter yang telah dirancang dan ditetapkan tidak luput dari program pengawasan yang ketat.

Merunut kebawah, khas nya karakter setiap fakultas tentu harus disesuaikan dengan setiap program studi yang ada dibawahnya, sama hal nya dengan keberagaman fakultas, keberagaman program studi pun akan menuntut penetapan program yang tepat dalam perancangannya karena setiap program studi pun memiliki keberagam tersendiri namun masih dalam satu konteks yang luas dalam lingkungan yang terbatas. Pada contohnya seperti pada Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis, yang dibawahnya terdapat program studi Manajemen (non-dik), Akuntansi (non-dik), Pendidikan Akuntansi, Pendidikan Manajemen Bisnis, Pendidikan Manajemen Perkantoran, Pendidikan Ekonomi, dan Pendidikan Ekonomi Syariah.

Perbedaan antara program studi non kependidikan dan pendidikan tentu memiliki suatu karakter yang berbeda, antara program studi Manajemen dan Akuntansi pun memiliki karakter yang berbeda, dimana output yang dihasilkan akan memiliki peranan yang berbeda pula, sama hal nya dalam konteks program studi kependidikan, antara setiap program studi pun memiliki hal yang berbeda.

Dalam penetapan program pembentukan karakter dalam dunia universitas sama hal nya dengan analogi penggunanan kaos, bagi laki-laki tentu dapat menggunakan seluruh kaos untuk laki-laki, begitupula dengan perempuan. Laki-laki kurus dapat menggunakan kaos untuk laki-laki bertubuh gemuk, namun akan longgar dan bagi laki-laki gemuk mungkin dapat menggunakan kaos bagi laki-laki kurus, namun akan ngetat atau bahkan tidak dapat masuk. Lain hal nya dengan kaos yang didapatkan dengan cara berusaha, model, warna dan ukuran nya akan dikenakan dengan sesuai.

Maka dari itu program pembentukan karakter A bukan tidak dapat diterapkan pada B, begitu pula sebaliknya, namun program pembentukan karakter A akan sesuai untuk A dan program B akan sesuai pada B, begitu pula seterusnya.

Nilai resiko yang ditimbulkan dari pola yang kedua memiliki nilai yang lebih kecil dibandingkan dengan pola yang pertama, karena pola pembentukan karakter oleh universitas secara sederhana tidak bersinggungan secara langsung dengan manifestasi politik dunia luar, standar mutu akademik telah didadaptkan dari seleksi masuk nasional, otoritas program studi sebagai lembaga terendah dalam hirarki birokrasi universitas memiliki kewenangan peranan terbesar dalam perencanaan, penetapan, pelaksanaan, pengawasan, pengukuran dan penilaian akhir terhadap program dan mahasiswa yang bersangkutan.

Kesesuaian tersebut tidak terlepas dari satuan unit standar mutu yang telah dirancang, menurut fenomena fenomena yang saya perhatikan 5 tahun silam ini, pola kedua ini dirasa paling tepat berdasarkan analisa resiko yang ditimbulkan dan besaran raihan nilai output yang diharapkan, namun keberhasilan pola kedua ini dalam program satu tahun hingga program 4 tahun memerlukan proses pelakasanaan yang harus diawasi secara sangat ketat, dari mulai perencanaan, penetapan, pelaksanaan, pengawasan, pengukuran dan penilaian akhir.

Tercapainya program pendidikan karakter terbaik tentu harus sejalan dengan kesediaan sebuah program studi dalam menjalankan sistem tersebut karena akan memakan waktu dan menyita fikiran yang besar dalam proses pelaksanaannya.

selanjutnya keberhasilan pelaksanaan program pendidikan karakter oleh universitas bagi mahasiswa tidak hanya dapat terwujud berkat kerja keras fakultas dan program studi saja, namun ormawa lah yang menjadi vital point dalam pelaksanaan program tersebut dilapangan.

Yang untuk selanjutnya kerjasama antara suatu ormawa dan program studi akan dibahas pada tulisan selanjutnya

Semoga bermanfaat

Salam

Azilmi 12, April 201

Advertisements